Rokok Vape dan Ancaman Kesehatan yang Sering Diabaikan

Rokok Vape dan Ancaman Kesehatan yang Sering Diabaikan – Rokok elektrik atau yang lebih populer disebut vape, mulai marak di Indonesia dan dunia sejak satu dekade terakhir. Awalnya, vape diperkenalkan sebagai alternatif rokok konvensional yang dianggap lebih “aman” karena tidak menghasilkan asap tembakau, melainkan uap dari cairan yang dipanaskan. Cairan ini biasanya mengandung nikotin, perasa, dan bahan kimia lainnya.

Popularitas vape kian meningkat terutama di kalangan anak muda. Faktor gaya hidup, tren modern, serta adanya anggapan bahwa vape lebih sehat daripada rokok tembakau membuat banyak orang beralih. Selain itu, variasi rasa (flavor) yang beragam, mulai dari buah, kopi, hingga dessert, menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, di balik kesan modern dan beraroma wangi, vape menyimpan ancaman kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Banyak penelitian medis menunjukkan bahwa meskipun berbeda dari rokok biasa, vape tetap membawa risiko besar bagi tubuh.

Dampak Kesehatan dari Penggunaan Rokok Vape

Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai vape adalah anggapan bahwa alat ini tidak berbahaya. Padahal, cairan vape (e-liquid) mengandung nikotin yang bersifat adiktif. Nikotin dapat merusak fungsi otak, terutama pada remaja, serta meningkatkan risiko kecanduan jangka panjang.

Selain nikotin, cairan vape mengandung propilen glikol, gliserin, dan zat kimia tambahan yang bila dipanaskan dapat menghasilkan senyawa berbahaya. Beberapa penelitian menemukan adanya formaldehida dan akrolein—dua zat yang bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker.

Gangguan kesehatan yang sering muncul akibat penggunaan vape antara lain:

  1. Masalah pernapasan – batuk kronis, sesak napas, hingga risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

  2. Kerusakan paru-paru akut – kasus EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury) pernah merebak di Amerika Serikat dengan ribuan penderita dan ratusan korban jiwa.

  3. Gangguan jantung – nikotin meningkatkan tekanan darah dan detak jantung, sehingga memperbesar risiko serangan jantung.

  4. Kecanduan jangka panjang – terutama pada anak muda, di mana nikotin bisa mengubah struktur dan fungsi otak yang masih berkembang.

Sayangnya, banyak pengguna vape yang belum menyadari bahaya tersebut. Mereka hanya melihat sisi “lebih wangi” dan “tidak berasap” tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

Kesimpulan

Vape mungkin terlihat modern, praktis, dan dianggap lebih aman daripada rokok konvensional. Namun kenyataannya, rokok elektrik tetap membawa risiko kesehatan serius, mulai dari kecanduan nikotin, kerusakan paru-paru, hingga potensi kanker. Fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada produk tembakau atau nikotin yang benar-benar aman untuk tubuh.

Kesadaran akan bahaya vape harus terus disebarkan, terutama kepada generasi muda yang rentan terjebak dalam tren ini. Pada akhirnya, pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan adalah dengan tidak merokok sama sekali—baik rokok konvensional maupun vape.

Scroll to Top